Dampak Bullying Terhadap Korban, Pelaku dan Korban

Dampak Bullying Terhadap Korban, Pelaku dan Korban

Dampak Bullying Terhadap Korban, Pelaku dan Korban

Bullying merupakan permasalahan yang wajib menjadi perhatian semua orang. Bullying dapat berdampak besar bagi korbannya bahkan hingga mereka dewasa. Namun banyak orang yang tidak peduli bahayanya dampak bullying yang dapat merusak kesehatan mental hingga membuat korban merasa ingin bunuh diri.

Dampak Bullying

Perilaku bullying bisa dimulai saat anak masih berada di usia prasekolah. Sayangnya masih banyak orang tua yang melakukan pembenaran dengan alasan usia anaknya yang masih kecil dan tidak mengerti apa itu bullying. Padahal sebagai orang tua, harusnya dapat memberikan pengertian jika bullying adalah perilaku yang tidak baik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan jika 33% siswa usia 12-18 tahun mengalami bullying di sekolah dan 27% mengalami cyberbullying dan siswa sekolah menengah mengalami tingkat bullying paling tinggi yaitu 25%.

Anak-anak korban bullying bisa mengalami masalah kesehatan fisik, emosional, sosial, akademik dan mental yang negatif. Mereka mungkin dapat mengalami hal-hal berikut ini:

  • Depresi dan kecemasan dengan meningkatnya perasaan sedih dan kesepian, perubahan pola tidur dan makan, hilangnya minat pada aktivitas yang sering mereka nikmati yang bahkan bisa bertahan hingga mereka dewasa.
  • Memiliki keluhan terhadap kesehatannya.
  • Menurunnya prestasi akademik.
  • Anak kecil yang mengalami bullying bisa membalas dendam dengan kejam. Dalam 12 dari 15 kasus penembakan sekolah pada 1990an, mayoritas tersangka adalah korban bullying.

Korban bullying bisa merasa sulit untuk berteman. Mereka juga sering merasa rendah diri, karena pelaku bullying sering menyebut mereka bodoh, gemuk, hitam dan sebagainya. Hal tersebut perlahan-lahan akan membuat anak korban bullying percaya jika yang dikatakan terhadap mereka adalah benar.

Anak korban bullying juga bisa merasa marah, tidak berdaya, frustasi, kesepian dan terisolasi dari teman-teman mereka. Akibatnya mereka bisa melewatkan kelas, serta menggunakan obat-obatan terlarang serta alkohol untuk menghilangkan rasa sakit mereka.

Sejalan dengan studi dari UCLA terhadap 2.300 siswa di sebelas sekolah menengah di Los Angeles yang menyatakan jika tingkat bullying yang tinggi dapat berkaitan dengan nilai rendah selama tiga tahun mereka berada di sekolah menengah.

Sedangkan bagi pelaku bully, sebuah studi menunjukkan jika pelaku bullying memiliki risiko tinggi menjadi anti-sosial dan bisa mengalami masalah di sekolah, penggunaan narkoba dan perilaku agresif.

Penelitian menunjukkan jika dampak bullying bisa bertahan hingga korbannya dewasa. Dalam satu penelitian terungkap jika anak yang mengalami intimidasi dari teman sebayanya dapat memiliki dampak negatif lebih besar terhadap kesehatan mentalnya saat mereka dewasa.

Efek bullying pada korban untuk jangka panjang

Anak-anak yang mengalami bullying, saat mereka dewasa bisa mendapatkan efek jangka panjang seperti:

  • Depresi kronis
  • Peningkatan risiko untuk bunuh diri, rencana bunuh diri, dan upaya bunuh diri
  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan stres pasca-trauma (PTSD)
  • Sulit percaya terhadap orang lain

Dampak bullying pada pelaku

Sedangkan bagi pelaku bullying, efek jangka panjang dari intimidasi yang mereka lakukan adalah.

  • Risiko pelecehan pasangan atau anak
  • Risiko perilaku antisosial
  • Penyalahgunaan zat
  • Bersikap kasar terhadap pasangan atau bahkan anak-anak mereka kelak
  • Terlibat dalam aktivitas seksual dini
  • Terlibat dalam perkelahian, merusak properti, dan putus sekolah

Bukan hanya pelaku dan korban saja yang bisa mengalami efek jangka panjang, bahkan saksi juga bisa mengalami permasalahan mental seperti:

  • Merasa takut dan bersalah karena tidak melakukan apa-apa
  • Rentan mengalami depresi dan kecemasan
  • Merasa cemas dan takut untuk datang ke sekolah

Dampak bullying memang bukan hanya berpengaruh terhadap kesehatan mental tapi juga bisa mempengaruhi segala aspek. Karena itu, penting bagi orang tua untuk terus memantau perilaku anak-anak mereka agar terhindar menjadi korban maupun pelaku bullying.

Leave a Reply